var id = "52cef0501065c04a0d320f231464118135f119e8"; ?php body_class(); ?>>

Diramalkan Hujan Ekstrem 12 Januari, BMKG Disindir Karni Ilyas: Kalah sama Pawang Hujan?

Nasional

Presiden Indonesia Lawyers Club (ILC) Karni Ilyas menyoroti ramalan cuaca dari Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) soal cuaca ekstrem yang akan melanda wilayah Jakarta. BMKG sebelumnya merilis kalau pada tanggal 12 Januari 2020, diperkirakan akan terjadi hujan yang ekstrem di wijayah Jabodetabek. Namun nyatanya pada Minggu (12/1/2020), wilayah Jabodetabek tidak turun hujan yang lebat dan ekstrem.

Hal itu pun kemudian menjadi sorotan Karni Ilyas. Ia pun menyampaikan hal itu melalui akun Twitter miliknya @karniilyas. Sebelumnya, dilansir dari Kompas.com, Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi ( BPPT) Tri Handoko Seto mengatakan, prediksi akan terjadi hujan dengan curah hujan tinggi hingga 12 Januari 2020 sudah diperkirakan sebelumnya.

Peringatan akan terjadi cuaca ekstrem di wilayah DKI Jakarta dari Kedutaan Amerika Serikat ramai dibicarakan melalui aplikasi berbagi pesan Whatsapp. Informasi tersebut menukil peringatan yang disampaikan dari website Kedutaan AS. Menurut Tri Handoko, hal itu benar adanya.

“Saya jawab lugas saja: iya,” ujar Tri Handoko Seto, kepada Kompas.com, Sabtu (09/01/2020). Untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem ini, BPPT melalui Tim Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) bekerja sama dengan BNPB, TNI AU, dan BMKG akan melakukan operasi modifikasi cuaca selama 24 jam pada 10 13 Januari 2020. “Sejak 3 Januari 2020 (melaksanakan TMC) pagi sampai sore. Pada 10 13 Januari 2020, kami siapkan 24 jam,” ujar Seto.

Seto menyebutkan, kemungkinan hujan lebat akan terjadi pada 10 12 Januari 2020. “Tapi untuk antisipasi, kami siapkan sampai 13 Januari karena prediksi bisa saja meleset,” ujar dia. Adapun curah hujan di wilayah Jabodetabek pada waktu tersebut diperkirakan berkisar 50 100 mm.

Jumlah tersebut tak setinggi saat hujan pada awal tahun 2020 yang berkisar 200 370 mm. Meski demikian, ujar Seto, hujan ini tetap bisa mampu memicu terjadinya banjir. “Ini mending, tapi kan tanah Jakarta sudah basah semua, sehingga kalau terjadi hujan segitu bisa banjir juga,” kata dia.

Rupanya, pada tanggal 12 Januari 2020, wilayah Jakarta terpantau cerah hingga sore hari. Hal itu disampaikan oleh Karni Ilyas melalui akun Twitter nya. Karni Ilyas menyorot ramalan tersebut dengan cuaca yang cerah hingga sore hari.

Ia kemudian membandingkan dengan hujan lebat pada 1 Januari 2020 yang tidak teramalkan sebelumnya. Ia pun mempertanyakan, apakah alat canggih bisa dikalahkan dengan pawang hujan. "BMK ramalkan 2 Januari sampai hari ini, Jkt hujan extrim, puncaknya hari ini.

AS pun ikut peringatkan warganya. Ternyata sampai sore ini cuaca cerah. Sebaliknya 1 Januari, tanpa aba aba Jabodetabek dilanda hujan terlebat dlm seabad.

Mungkinkah alat canggih dikalahkan pawang hujan?," tulis Karni Ilyas. Rupanya ada netizen yang protes dengan Tweet Karni Ilyas tersebut. Pemilik akun @raynoldsubakti tampak tak setuju dengan kata pawang hujan.

"Kok pawang sih?? Yg berdoa & mendoakan supaya cuaca baik & tidak ada badai itu Jutaan orang.. !! Kok pawang??," tulisnya.

Karni Ilyas pun kemudian berusaha meluruskan maksudnya. "Jangan dibaca letterlijk begitu dong. Itu kan kalimat satire," tulis Karni Ilyas.

Proses modifikasi cuaca Seto menjelaskan, proses modifikasi cuaca ini berupa proses untuk membuat hujan yang jatuh di Jakarta dan sekitarnya tidak menjadi deras. “Hujannya itu dijatuhkan dulu sebelum masuk Jabodetabek. Awan itu kan bergerak dari lautan ke daratan. Selama bergerak itu kalau dibiarkan hujan di Jabodetabek,” kata dia. Melalui modifikasi cuaca, hujan dibuat terjadi dulu di lautan sebelum masuk ke daratan Jabodetabek sehingga hujan deras di daratan bisa diminimalisir.

Seto mengatakan, operasi BPPT pada malam hari yang akan dilakukan termasuk operasi yang berisiko tinggi. Adapun untuk operasi ini akan dijalankan dua pesawat untuk menyemai. Garam yang disemai disebar berdasarkan lokasi awan.

“Fokus mengurangi curah hujan Jabodetabek dan sekitarnya. Penyemaian akan dilakukan terus menerus. Kami menghujankan lebih dulu di atas lautan pada awan awan yang bergerak menuju Jabodetabek dan sekitarnya,” kata dia. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *