IDI: Penolakan Pemakaman Perawat Korban Covid-19 Sangat Tidak Pantas

Corona

Organisasi profesi yang terlibat dalam penatalaksanaan pasien dalam kondisi wabah covid 19 mengecam keras respon penolakan keras dari oknum masyarakat pada jenazah perawat diSemarang. Hal tersebut tertuang dalam pernyataan sikap besama yang dikeluarkan ikatan dokterIndonesia (IDI), bersama lima organisasi lainnya. Di antaranya persatuan perawat nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), serta Ikatan Ahli Masyarakat Indonesia(IAKMI).

“Kami mengecam keras atas respon penolakan dari oknum masyarakat di lokasi pemakaman,tindakan tersebut sangat tidak pantas dilakukan kepada seorang tenaga kesehatan yang telah berjibakumempertaruhkan nyawa dengan segala resiko demi kemanusiaan,” demikian tertulis pada poin pertamadalam surat pernyataan IDI. IDI dan lima organisasi tersebut menegaskan jenazah perawat di RSUP Semarang itu dipastikan telahdilakukan perawatan dan pemulasaran jenazah sesuai protokol yang ditentukan. “Jadi tidak beralasan untuk menolak dan memberikan stigma negative yang berlebihan kepada almarhumah sejawat kamiyang telah gugur sebagai pahlawan kemanusiaan,” ujar pernyataan tersebut.

Dalam pernyataan bersama tersebut juga tertulis, para petugas medis memastikan seluruh masyarakattelah diberikan layananan kesehatan berdasarkan kode etik, sumpah profesi, dan standar profesi. “Tertanam sejak menjadi seorang tenaga kesehatan dengan semangat nasionalisme yang tinggi, tulus,ikhlas, mengutamakan kepentingan pasien diatas kepentingan pribadi,” katanya. IDI dan 5 organisasi profesi juga mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum memberikan perlindungan, keselamatan dan dukungan moral yang sesuai dengan harkat martabat manusia padaseluruh petugas medis.

Mereka juga meminta aparat untuk menindak tegas oknum warga yang melakukan penolakan kepadajenazah tenaga kesehatan yang gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan di seluruh wilayah NKRI. Hal itu untuk menghindari kejadian serupa terulang kembali. Mengenai adanya penolakan pemakaman itu, Dosen Psikologi Universitas Negeri Semarang (Unnes)Abdul Azis mengatakan bahwa masyarakat kita sudah terpapar dampak transmisi media sosial yangberlebih tanpa kemampuan menyaring yang baik atau kemampuan literasi digital yang masih lemah.

"Sehingga paparan info banyak tentang covid 19 secara instan yang diambil secara serampangan.Jadi ketika ada oknum yang membombardir dengan info negatif di saat yang tertekan (dihadapkan jenazah yang harusnya mereka terima) mereka jadi parno," ujarnya. Azis mengajak semua pihak memberikan pemahaman baik dan tidak sepotong sepotong. "Kalau ada pendampingan akan lebih baik. Dengan melalukan sosialisasi dari sumber media yg terpercaya. Platform sumber media dari civil society yang terpercaya juga banyak," ujarnya.

Menurut Azis, untuk menekan laju informasi negatif dan bahkan hoaks ini menjadi ruang peran kawan kawan ahli komunikasi dan bahasa. "Ini juga butuh peran ahli informatika/algoritma untuk lebih membuat Melek mana tulisan tulisan yang hoaks kepada masyarakat kita," tuturnya. Bagi Azis, peran mereka di masa wabah yang butuh segala informas yang tepat sangat penting untuk

Masyarakat. "Sisi lain, pemerintah bisa mengg gunakan sumber daya yan dimiliki untuk masuk ke grup grup whatsapp sampai tingkat RT untuk memastikan info covid 19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *