Keluarga Pasien Corona Bohong dan Marah saat Ditanya Riwayat, Wali Kota Cirebon: Covid-19 Bukan Aib

Corona

Keluarga seorang pasien M (70) di Rumah Sakit TNI Ciremai, Cirebon, Jawa Barat, sempat berbohong hingga marah saat petugas medis bertanya soal riwayat penyakit. Padahal, pasien tersebut sempat melakukan kontak dengan kerabatnya yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal dunia. Menanggapi peristiwa itu, Wali Kota Cirebon Nashrudin Azis sangat menyayangkan sikap keluarga pasien.

Terlebih ketidakjujurannya itu berakibat fatal, yakni 21 tenaga medis yang harus menjalani isolasi mandiri. Nashrudin begitu menyayangkan sikap keluarga pasien yang sengaja menutupi riwayat orangtuanya padahal mereka disebut tahu dampak bahaya virus corona. "Sebetulnya permasalahan ini adalah suatu permasalahan yang tidak perlu terjadi," ujar Nashrudin.

"Manakala pihak pasien itu telah memiliki ilmu pengetahuan tentang bahaya Covid 19 dan tidak mau menyampaikannya secara jujur," sambungnya. Nashrudin menegaskan bahwa orang yang terinfeksi corona tidak menjadikannya sebagai aib. Maka dari itu, kejujuran sangat diperlukan lantaran bisa menyelamatkan nyawa banyak orang.

"Hakikatnya orang yang terkena Covid 19 ini adalah bukan orang yang kemudian mendapatkan sebuah aib," kata Nashrudin. "Oleh karena itu, kejujuran ini akan menyelamatkan banyak orang." "Menyelamatkan dirinya, dan juga menyelamatkan orang lain," imbuhnya.

Sang wali kota membenarkan bahwa pasien tersebut adalah warganya yang sempat kontak dengan PDP yang sudah meninggal dunia. "Pasien tersebut adalah warga Kota Cirebon yang sebelumnya telah berinteraksi dengan saudaranya yang diduga masuk kategori PDP," tuturnya. Pasien itu kemudian mengalami gejala sesak napas serta tekanan darah tinggi hingga dilarikan ke rumah sakit, Selasa (14/4/2020).

"Kemudian pasien tersebut datang ke rumah sakit dalam posisi Beliau tidak sadarkan diri, kemudian sesak napas dan tensinya tinggi," jelas Nashrudin. Lantaran kondisi kesadaran pasien terus menurun, maka pihak keluargalah yang ditanyai oleh petugas medis soal riwayat pasien. Sayangnya pihak keluarga memilih untuk bungkam dan menekankan bahwa pasien memang sudah berusia senja.

"Keluarga pasien yang membawanya tidak memberikan informasi apapun, kecuali bahwa orangtuanya ini sudah sepuh dan tidak ke mana mana," ungkap Nashrudin. Karena tidak tahu ada riwayat dengan PDP, maka pihak medis pun merawat pasien itu bukan dengan prosedur Covid 19. "Dengan pertimbangan kemanusiaan, tenaga medis Rumah Sakit Ciremai berupaya memberikan pelayanan secara maksimal kepada pasien tersebut," ujarnya.

Setelah pasien itu masuk ICU, barulah tim medis mendapat kabar bahwa pasien itu pernah berkontak dengan kerabatnya yang PDP. Ternyata ia sempat membuka bungkus plastik dan peti jenazah kerabatnya yang PDP itu sebelum dimakamkan. Pasien itu langsung menjalani serangkaian tes dan pemeriksaan lanjutan hingga ditemukan cairan kuning di paru paru yang mengindikasikan positif corona.

Pasien berusia 70 tahun itu akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Rabu (15/4/2020). Peristiwa meningalnya pasien M tersebut disusul dengan beredarnya kabar bahwa seorang dokter ahli saraf yang menangani M meninggal dunia. Dikutip dari , Dandenkesyah Cirebon, Letkol CKM Dr Wildan Sani SpU mengklarifikasi bahwa kabar tersebut tidak benar.

Ia menegaskan dokter yang dikabarkan meninggal dunia itu kondisinya sehat sehat saja. Hanya saja dokter tersebut memang termasuk di antara petugas medis yang menjalani isolasi mandiri. “Kami tekankan bahwa itu tidak benar. Dokter Ludmilah, spesialis saraf sampai hari ini dalam keadaan sehat walafiat," kata Wildan, Senin (20/4/2020)

"Sejak pagi hingga siang ini masih berkomunikasi dan memang menjadi salah satu dokter yang melakukan isolasi mandiri,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *