Pesan Pasien yang Berhasil Sembuh dari Covid-19, Jangan Galau, Tumbuhkan Harapan dan Keyakinan

Corona

Sembuh dari virus corona atau Covid 19 adalah persoalan imunitas. Pikiran menjadi salah satu yang mempengaruhi imunitas, karenanya sebisa mungkin jangan galau. Selain itu harus yakin untuk selalu mempunyai harapan. Hal itu diungkapkan oleh Riko Sihombing (54), pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari virus corona atau Covid 19, setelah dirawat di RSKD Duren Sawit, Jakarta Timur.

Dia menyadari semua itu tidak mudah. Apalagi pasien yang diisolasi harus terpisah dari keluarganya dan tak bisa beraktivitas seperti biasa yang dilakukan di luar sana. Tapi Riko meminta agar semua pihak tidak paranoid menghadapi Covid 19. Siapapun dan dimanapun memang dapat tertular, terutama mereka yang berada di usia rentan dan memiliki penyakit baw

Aan. Menurutnya hal itu dapat diatasi dengan kewaspadaan dan dengan selalu mengingat untuk cuci tangan serta tak menyentuh wajah. "Jadi kalau menurut saya kita memang harus waspada terhadap Covid 19, tapi juga jangan jadi paranoid. Yang penting kita mengedukasi diri bahwa kemana mana pakai masker, rajin cuci tangan, jangan pegang muka," tandasnya.

Sebagai pasien terjangkit virus corona dan kemudian sembuh, Riko Sihombing mengaku sangat berterimakasih kepada para tenaga medis yang merawatnya di RSKD Duren Sawit, Jakarta Timur. Meski tak mengenal masing masing pribadi dan tak dapat mengenali wajah dari tenaga medis tersebut, ia sangat mengapresiasi totalitas mereka. "Kami (pasien) nggak tahu muka (tenaga medis), nggak kenal karena pakai alat pelindung diri (APD). Tapi saya salut, saya betul betul apresiasi sama mereka," ujar Riko.

Menurutnya, para tenaga medis di tempatnya dirawat sudah berkorban banyak. Salah satunya dengan memperpanjang shift jaga mereka dari empat jam menjadi enam jam. Hal itu harus dilakukan, kata Riko, karena mereka kekurangan orang atau tenaga medis.

"Mereka kan kekurangan orang, idealnya mereka pakai APD itu cuma empat jam. Tapi karena kekurangan orang akhirnya shift mereka dibuat per 6 jam," kata dia. Memperpanjang shift jaga, otomatis para tenaga medis juga semakin lama menahan lapar, haus dan rasa panas yang timbul akibat memakai APD. "Per 6 jam itu bayangkan mereka nggak bisa makan, minum, ke belakang, buang kecil aja ke pampers. Dan itu panasnya luar biasa di dalam itu. Makanya di koridor itu dibikin sangat dingin suhunya," tandasnya

Riko Sihombing juga menyebut mengkonsumsi sejumlah obat, beberapa diantaranya merupakan obat terkait paru paru, karena paru paru Riko terdampak. Selain itu, dia wajib pula mengkonsumsi vitamin C. Ia mengaku juga mengkonsumsi obat yang sempat disebut oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu.

Namun Riko tak menjelaskan apakah yang dikonsumsi obat Avigan atau Klorokuin. "Ada beberapa ya (obat yang saya konsumsi). Ada yang untuk paru Acetylcysteine, kemudian ada obat yang dibilang Presiden Jokowi juga ada," tuturnya. Riko tak begitu mengetahui perihal dosis obat yang diberikan pihak rumah sakit.

Tapi terkadang, dia membandingkan jumlah obat yang diterimanya dengan teman sekamar isolasinya. "Saya nggak tahu dosisnya berapa. Tapi saya iseng sering ngobrol dengan teman sekamar, dapat berapa tablet gitu. Ya nggak jauh beda, sama lah," jelasnya. Selain itu, ia bercerita jika dokter akan selalu mengecek perkembangan kondisi pasien

Apakah sudah membaik, terutama dalam hal pernafasan. "Jadi ketika kita masih pasang infus, masa berat beratnya, dosisnya besar. Begitu cabut infus, ditanya dokter sambil diperiksa pakai stetoskop," kata dia. "Dokter tahu lah, kita nggak bisa bohong (soal kondisi kita). Misal kita bilang sudah enak, tapi kemudian disuruh tarik nafas, ternyata batuk. Jadi dikasih obat lagi. Tapi begitu kita udah agak lega, dosisnya diturunin terus sama dokter," tandasnya.

Riko langsung memutuskan berhenti menjadi perokok setelah dinyatakan sembuh dari virus corona atau Covid 19. Dia sebenarnya perokok aktif. Sebelum dikonfirmasi positif Covid 19, dia sempat didiagnosis demam berdarah (DB). Saat itu, karena saking tidak tahannya untuk menghisap nikotin, dia sempat curi curi merokok saat dirawat.

"Saya di awal sempat batuk kering, agak sakit. Saya berpikir itu karena merokok. Saya adalah perokok aktif. Waktu dirawat DB curi curi merokok juga, pas diperbolehkan pulang juga merokok lagi. Saya pikir karena merokok, walaupun batuknya agak aneh," kisahnya. Setelah dinyatakan sembuh Covid 19, dia berencana akan mengecek kondisi thorax nya. Namun itu akan dilakukan setelah isolasi mandiri selama 14 hari setelah pulang dari RSKD Duren Sawit.

Saat bertanya ke dokter selama diisolasi, paru paru Riko akan lebih cepat membaik apabila dirinya berhenti merokok. "Dokter bilang kalau saya berhenti merokok, paru parunya akan membaik lebih cepat. Ya sudah saya berhenti merokok. Istri juga minta berhenti. Saya pikir juga sudah cukup lah. Belajar hidup sehat aja," kata dia. Riko sendiri mengungkap meski sudah tidak batuk lagi, dirinya merasa ketika menarik

Nafas belum selega sebelum dirinya terinfeksi Covid 19. Kini, ia berusaha berolahraga ringan dengan berjalan kaki di sekitar rumahnya sambil latihan mengolah nafas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *