Rusia akan Lakukan Vaksinasi Massal Covid-19 pada Oktober 2020

Corona

Sejumlah kemungkinan vaksin virus Corona sedang dikembangkan di seluruh dunia. Saat ini, lebih dari 20 'calon' vaksin berada dalam uji klinis. Rusia termasuk negara yang sedang dalam tahap pengujian vaksin.

Bahkan, otoritas kesehatan Rusia sedang bersiap untuk memulai vaksinasi massal melawan Covid 19 pada Oktober 2020 mendatang. Menteri Kesehatan Rusia, Mikhail Murashko, mengatakan dokter dan guru akan menjadi penerima vaksin pertama. Dikutip dari Reuters , potensi vaksin pertama Rusia akan disetujui oleh regulator bulan ini, Agustus 2020.

Murashko mengemukakan, Gamaleya Institute, sebuah fasilitas penelitian di Moskow, telah menyelesaikan uji klinis vaksin. Kantor berita Interfax melaporkan, dokumen sedang disiapkan untuk mendaftarkannya. "Kami merencanakan vaksinasi yang lebih luas untuk Oktober," kata Murashko.

Bulan lalu, para ilmuwan Rusia mengungkapkan, uji coba tahap awal dari vaksin berbasis adenovirus telah selesai dan memberikan hasil yang sukses. Vaksin tersebut dikembangkan oleh Gamaleya Institute. Namun, beberapa ahli khawatir dengan pendekatan Rusia yang begitu cepat mengenai vaksin.

Pakar penyakit menular terkemuka di AS, Dr Anthony Fauci, mengemukakan pendapatnya mengenai jalur yang ditempuh Rusia itu. "Saya berharap Rusia dan China benar benar menguji vaksin, sebelum memberikannya kepada siapa pun," ujar Fauci, Jumat (31/7/2020) lalu. Di samping itu, Dr Fauci juga berharap Amerika Serikat dapat menghasilkan vaksin yang aman dan efektif pada akhir tahun ini.

"Saya tidak percaya bahwa akan ada vaksin sejauh ini di depan kita, sehingga kita harus bergantung pada negara lain untuk mendapatkan vaksin," katanya kepada anggota parlemen AS. Bulan lalu, dinas keamanan Inggris, AS, dan Kanada mengatakan, kelompok peretas Rusia telah menargetkan organisasi yang sedang mengembangkan vaksin Covid 19. Diduga, mata mata Rusia tersebut berniat untuk mencuri informasi.

Dilansir , Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) mengungkapkan, lebih dari 95 persen yakin bahwa kelompok yang disebut APT29 juga dikenal sebagai The Dukes atau Cozy Bear adalah bagian dari layanan intelijen Rusia. Duta Besar Rusia untuk Inggris, Andrei Kelin, membantah tuduhan itu. Kepada BBC , Kelin mengatakan, tuduhan tersebut tidak ada gunanya.

Sementara itu, di Inggris, uji coba vaksin yang dikembangkan oleh Oxford University telah menunjukkan vaksin dapat memicu respons kekebalan. Bersama AstraZeneca, kepekatan telah ditandatangani untuk memasok 100 juta dosis untuk Inggris. Rusia terobsesi menjadi negara pertama di dunia yang menyetujui vaksin Covid 19, dalam kurun waktu dua minggu ke depan.

Namun, ada kekhawatiran menyangkut keamanan dan efektifitas dari vaksin tersebut. Para pejabat Rusia mengatakan kepada CNN , mereka sedang bekerja agar pada 10 Agustus atau lebih awal sudah menghasilkan vaksin Covid 19 yang disetujui. Vaksin tersebut dibuat oleh Gamaleya Institute yang berbasis di Moskow, ibu kota Rusia.

Vaksin tersebut ditargetkan disetujui untuk pemakaian umum, namun petugas kesehatan mendapat prioritas untuk mendapatkannya terlebih dahulu. "Ini momen Sputnik," kata Kirill Dmitriev, Kepala Dana Kekayaan Negara Rusia, yang membiayai penelitian vaksin tersebut. Ia merujuk pada Sputnik, sebuah satelit pertama di dunia, yang diluncurkan Uni Soviet pada 1957.

"Orang Amerika terkejut ketika mereka mendengar Sputnik. Itu sama dengan vaksin ini. Rusia akan sampai di sana lebih dulu," tambahnya. Namun, Rusia tidak merilis data ilmiah tentang pengujian vaksinnya dan CNN tidak dapat memverifikasi keamanan atau keefektifannya. Para kritikus mengatakan desakan negara itu untuk vaksin datang di tengah tekanan politik dari Kremlin, yang ingin menggambarkan Rusia sebagai kekuatan ilmiah global.

Ada juga kekhawatiran luas pengujian manusia terhadap vaksin itu tidak lengkap. Lusinan uji coba vaksin sedang berlangsung di seluruh dunia dan sejumlah kecil dalam uji coba kemanjuran berskala besar, tetapi sebagian besar pengembang telah memperingatkan masih banyak pekerjaan yang tersisa sebelum vaksin mereka dapat disetujui. Beberapa vaksin global sedang dalam tahap uji coba ketiga, vaksin Rusia belum menyelesaikan fase kedua.

Pengembang berencana untuk menyelesaikan fase tersebut pada 3 Agustus, dan kemudian melakukan pengujian fase ketiga secara paralel melalui vaksinasi pekerja medis. Ilmuwan Rusia mengatakan vaksin ini cepat dikembangkan karena merupakan versi modifikasi dari yang sudah dibuat untuk memerangi penyakit lain. Itulah pendekatan yang diambil di banyak negara lain dan oleh perusahaan lain. Moderna, vaksin yang didukung oleh pemerintah AS dan yang memulai pengujian fase 3 pada Senin (27/7/2020), telah membangun vaksin Covid 19 pada vaksin yang telah dikembangkannya untuk MERS.

Sementara ini telah mempercepat proses pengembangan, regulator AS dan Eropa membutuhkan uji keamanan dan kemanjuran yang lengkap untuk vaksin. Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan tentara Rusia bertugas sebagai sukarelawan terkait uji coba terhadap manusia. Alexander Ginsburg, direktur proyek, mengatakan dia ikut menjadi sukarelawan uji coba vaksin itu.

Para pejabat Rusia mengatakan obat itu dipercepat persetujuannya karena pandemi global dan Rusia mengalami serangan parah. Negara itu saat memiliki lebih dari 800.000 kasus Covid 19. "Ilmuwan kami fokus bukan pada menjadi yang pertama tetapi pada melindungi orang," kata Dmitriev.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan hingga kini belum ada vaksin MERS yang disetujui. Kementerian Kesehatan Rusia mengatakan staf medis garis depan akan menjadi yang pertama divaksinasi setelah obat baru tersebut disetujui untuk penggunaan umum. Uji coba vaksin skala besar di Inggris, Amerika Serikat, dan di tempat lain sedang berjalan cepat tetapi belum berkomitmen untuk tenggat waktu dimana produk mereka akan disetujui.

Hasil awal dari uji coba vaksin yang dikembangkan oleh University of Oxford dan AstraZeneca menjanjikan, namun Mike Ryan, Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO mengatakan masih banyak jalan yang harus ditempuh. Pada awal bulan ini, Rusia membantah tuduhan telah melakukan kegiatan mata mata dan meretas laboratorium penelitian Amerika, Kanada, dan Inggris, terkait pengembangan vaksin. Pejabat Rusia juga membantah laporan yang menyebut anggota elite politik dan bisnis negara itu, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin, telah diberikan akses awal terhadap vaksin Covid 19 itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *